ALHAMDULILLAH Berkat Idzin Dari Beliau,"Demi Rasa syukur,kecintaan
Dan Kebanggaan Kami Kepadanya" Bukan pula untuk menyombongkan diri kami
,tetapi sdh selayaknya seorang murid harus mengetahui Nasab Jasad & Sanad
Mata rantai keguruan yg menjadi "Gurunya" untuk mengesahkan ilmu kami
yg menjadi murid ,Dari jalur mana guru kami menerima ilmunya Serta lebih
menguatkan Iman Islam dan Ihsan kami. "(kami disini tdk menyatakan bahwa
Abuya / Guru Kami tsb itu HAbib atau Syarif)"
@ Silahkan simak Rekaman Penggalan Taushiah Klarifikasi Penjelasan masalah
pengunggahan Nasab Beliau dibawah status ini *
Dengan Mengucapkan BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM Saya Yang teramat
Faqiir M Ibrahim Daadi. Mengunggah Nasab Jasad / Bukan nasab Kehabibannya Abuya
KH.M.Muhyiddin Abdul Qodir Al Manafi MA Dari Jungjunan Alam NABI BESAR
SAYYIDINA MUHAMMAD SAW
1..Siti Sayyidah Fatimah Binti Muhammad SAW Menikah dg Sayyidina
Ali bin Abi Tholib.RA (Mempunyai Anak
sesuai dg no Urut Ke bawah Dst)
2.Syd.Husain Assabti.Ra
3.Syd.Zaenal Abidin .Ra
4.Syd.Muhammad Al Baqir.Ra
5.Syd.Jafar Shodiq.Ra
6.Syd.Kasim Al Kamil (Ali Al Uraidi).Ra
7.Syd.Muhammad Naqib (Idris).Ra
8.Syd.Isa Al Basri. Ra
9.Syd.Ahmad Al Muhajir. Ra
10.Syd.Ubaidillah.Ra
11.Syd.Alwi.Ra.
12.Syd.Muhammad.Ra
13.Syd.Alwi.Ra
14.Syd.Ali Kholiqosam.Ra
15.Syd.Muhammad shohibul mirbath .Ra
16.Syd.Alwi Amir Faqih.Ra
17.Syd.Abdul Malik.Ra
18.Syd.Abullah Khan Nurdin(Amir).Ra
19.Syd. Amir Ahmad Syech Jalaludin.Ra
20.Syd.Jamaluddin Al Husein.Ra
21.Syd.Ali Nurul Alam.Ra
22.Syd.Syarif Abdullah.Ra (Sultan Mesir) menikah
dg Siti Syarifah Mudaim (Rara Santang)Putri Raja
Pajajaran Prabu Siliwangi
23.Syd.Syarif Hidayatullah Ra (Sunan Gunung jati/Cirebon)
Disusun Oleh Yang Teramat Faqir :
H.M IbrahimDaadi.
Langsung Dari Yang Mulia Abuya
KH. M.Muhyiddin Abdul Qodir Al Manafi MA .
InsyaaLLah menyusul... (to be continued)
Masih adalagi dari jalur yg Lain Dari Istri Eyang Dalem H.Abdul Mahmuud ke yang
lainnya yg blm diunggah.Semoga beliau Dipanjangkan Umur,Disehatkan Selalu dan
Dilimpah ruahkan / Ditambah tambahkan lagi Rizqi &Keberkahannya …Aamiin
NB: Diunggah Sebagai Klarifikasi Atas Banyaknya
pengunggahan yg keliru & banyaknya Permintaan
Tentang Nasab Beliau sebagai Implementasi.
Kecintaan Kami Khusus nya Jemaah Kel Besar
MT & Dawah Ponpes Asy Syifaa Wal Mahmuudiyyah Jabar
Bandung, Selasa 11Juni2013M / 2Syaban1434H
Wassalamu a'laikum Wr Wb. Seksi Dawah Asy Syifaa BDG. M Ibrahim Daadi
Info langsung dari Ust.M Ibrahim
dadi dari Abuya K.H Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Almanafi M.A
Nasihat Guru kita Abuya K.H Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Almanafi M.A
Assalaamu’alaikum wrwb kepada Ahbaab
Muslimin Muslimat ..
Hati2..!!! Hati2!!!..Hati2..!!!
Ada beberapa kata atau kalimat yang harus di luruskan secara lafadz atau
ma’nanya yang sudah beredar di sebagian masyarakat awam yang di hawatirkan
merusak ‘Aqidah…diantaranya:
1)
Kalimat (Bagaimana yang di atas saja)apalagi jika di tambah dengan telunjuknya
mengisyaratkan ke jihat atas …kalimat (yang diatas) jika di maksudkan Dzat
Allaah dan maksud atas itu jihat atas maka hukumnya kufur karena Allaah tidak
terkurung oleh jihat..
2).Kalimat (Allaah ada di mana2)…
3)Allah ada di Arasy
4)Allaah ada di Langit
5)Allaah ada di hati
6)Allaah ada di depan
kata (mana2/Arsy/Langit/hati dan lainnya itu semua
menunjukan tempat dan kata Atas/depan itu menunjukan jihat sedangkan tempat dan
jihat bahkan semua alam semesta ini ciptaan Allaah yang asal alam semesta ini
tidak ada lalu Allaah Adakan maka keberadaan alam semesta ini adalah perkara
baru baik Arasy/ langit/bumi/hati/atas /depan dan yang lainnya maka tidaklah
mumkin Allaah terkurung oleh jihat atau terwadahi oleh tempat atau Allaah
berpindah kepada tempat atau jihat yang Allaah Ciptakan dari tidak ada apa2…
Maka tidak boleh mengatakan dan meyaqini Allaah dimana2 ..tapi dimanapun
makhluq berada Allaah Ada sesuai dengan KeberadaanNya..Juga tidak boleh
mengatakan dan meyaqini Allaah di hadapan kita tapi kita dan alam semesta ada
di Hadapan Allaah..
Maka Arti bahwa RosuuluLLooh Saw Melihat Dzat Allaah di
waktu Mi’roj di Maqom Mukaafahah di Alam itu saat itu? Bukan Allaah Yang ada di
sana saat itu tapi RosuuluLLooh Saw Yang Ada di Alam itu saat itu..
Begitu pula Ma’na Ahli Sorga akan melihat Allaah di Sorga saat itu bukan Allaah
Nya Yang di Sorga saat itu tapi Ahli Sorganya yang di Sorga saat itu…
7)kalimat (menghadirkan Allaah) …tidak boleh
mengatakan dan punya perasaan menghadirkan Allaah karena Allaah Maha Hadlir,
tidak mumkin menghadirkan Yang Maha Hadir …tapi katakanlah dan lakukan
menghadirkan hati kepada Allaah ..
Adapun Makhluq boleh di hadirkan di saat makhluq itu ghoib maka menghadirkan
yang tidak hadir itu benar..bahkan seyogyanya Mumin harus menghadirkan Nabi Saw
di hadapannya tatkala membaca Salam kepadaNya baik di dalam Solat maupun di
luar Solat,bahkan alangkah baik sekali jika Mumin bisa menghadirkan Nabi Saw di
setiap waktu dan di semua tempat juga di setiap gerak geriknya juga
menghadirkan Para Nabi dan Para Malaikat ‘Alaihimussalaam juga menghadirkan
Para Wali dan Guru Mursyid juga menghadirkan Sorga dan Neraka dan berbagai
kejadian di Alam Qubur dan di Hari Qiyamat juga di Alam Akhirat dan
menghadirkan segala Janji2 Allaah dan AncamanNya yang telah di Firmankan oleh
Allaah Ta’aalaa dalam QuranNya dan di Sabdakan oleh RosuuluLLooh Saw di dalam
Hadits2Nya Yang Mutawatir supaya Imannya menjadi rasa yang mana rasa itu adalah
Maqom Ihsan tahap pertama..
8)Kalimat (Allaah merencanakan)..maka tidak
boleh mengatakan dan meyaqini bahwa Allaah merencanaka karena kata rencana yang
di fahami umum adalah hal yang mumkin gagal sementara tidak ada kegagalan pada
Kehendak Allaah.. Maka katakanlah dan yaqinilah bahwa Allaah Menghendaki dan
Memastikan segala suatu makhluqNya..
9)Kalimat (Peran serta Allaah).. Maka tidak
boleh mengatakan( Peran serta Allaah)karena kata (serta) menunjukan selain
Allaah ikut berbuat sedangkan Haqiqat Yang Berbuat hanyalah Allaah ..
10)kalimat pertanyaan (apakah ini sudah
Taqdir?)maka tidak boleh
mengatakan dan meyaqini hal seperti itu karena segenap
makhluq di ciptakan dan di atur juga di pastikan segala suatunya oleh Allaah
Yang Menciptakanya maka tidak mumkin ada perkara di makhluq yang keluar dari
Kekuasaan dan Kehendak Allaah Ta’aalaa..
11) kata (maksud Allaah)
Tidak
boleh mengatakan (maksud) tapi katakan Irodah atau Kehendak..
12)kalimat pertanyaan yang berhubungan
dengan ciptaan Allaah atau dengan KalaamuLLaah
(kenapa ?/apa sebabnya?)..maka tidak boleh berkata seperti itu karena Kekuasaan
dan Kehendak Allaah atas makhluqNya adalah haq mutlaq Allaah yang tidak bisa di
pertanyakan ..maka ucapkanlah (bagaimana Hikmahnya?)begitu pula sikap dan
ucapan kepada segala hal yang berkaitan dengan Sabda2 RosuuluLLooh Saw..
Maha Suci Allaah dari segenap sifat kekurangan dan Maha Sempurna Allaah dengan
Segenap Sifat Kesempurnaan…
WaLLaahu A’lam bishshowaab..
Ini baru sebahagian yang alfaqiir temukan …semoga manfaat kajian alfaqiir yang
sangat dlo’if dan yang amat membutuhkan Ampunan Allaah dan RildoNya…
alfaqiir khodim para pencahari Ilmu di Pondok Pesantren Asysyifaa
Walmahmuudiyah Sumedang…muhammad muhyiddin abduLQodir ..
Inilah Dalil-Dalil Mengharamkan Umat Islam Memilih Pemimpin Kafir
- Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin bagi umat Islam berarti menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW serta Ijma' Ulama. Memilih orang kafir sebagai pemimpin umat Islam berarti memberi peluang kepada orang kafir untuk "mengerjai" umat Islam dengan kekuasaan dan kewenangannya.
Berikut ini adalah sejumlah Dalil Qur'ani beserta Terjemah Qur'an Surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin :
1. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin
QS. 3. Aali 'Imraan : 28.
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu)."
QS. 4. An-Nisaa' : 144.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?"
QS. 5. Al-Maa-idah : 57.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman."
2. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :
QS. 9. At-Taubah : 23.
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
QS. 58. Al-Mujaadilah : 22.
"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung."
3. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia
QS. 3. Aali 'Imraan : 118.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."
QS. 9. At-Taubah : 16.
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman ? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
4. Al-Qur'an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam
QS. 28. Al-Qashash : 86.
"Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir."
QS. 60. Al-Mumtahanah : 13.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa."
5. Al-Qur'an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim
QS. 3. Aali 'Imraan : 149-150.
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong."
6. Al-Qur'an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim
QS. 4. An-Nisaa' : 141.
"...... dan Allah sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman."
7. Al-Qur'an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin
QS. 4. An-Nisaa' : 138-139.
"Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah."
8. Al-Qur'an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin
QS. 5. Al-Maa-idah : 51.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM."
9. Al-Qur'an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin
QS. 5. Al-Maa-idah : 80-81.
"Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ."
10. Al-Qur'an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin
QS. 60. Al-Mumtahanah : 1.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus."
11. Al-Qur'an mengancam azab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia
QS. 58. Al-Mujaadilah : 14-15.
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan."
12. Al-Qur'an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir
QS. 60. Al-Mumtahanah : 5.
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Ustadz Ammi Nur Baits
Dipublikasikan pada 25 June 2012
Hits: 7205
Asal Penamaan Bulan Sya’ban
Nama Sya’ban diambil dari kata Sya’bun (Arab: شعب), yang artinya kelompok atau golongan. Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan ini, masyarakat jahiliyah berpencar mencari air.
Ada juga yang mengatakan, mereka berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan. (Lisanul Arab, kata: شعب).
Al-Munawi mengatakan, “Bulan Rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah
bulan mulia, sehingga mereka tidak melakukan peperangan. Ketika masuk
bulan Sya’ban, bereka berpencar ke berbagai peperangan.” (At-Tauqif
a’laa Muhimmatit Ta’arif, Hal. 431)
Hadis Shahih Seputar Sya’ban
1. Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,
“Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari
sampai kami katakan: Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang
beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan
puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak
melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban. (HR.
Al Bukhari dan Muslim)
2. Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,
“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan
Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR.
Al Bukhari dan Muslim)
“Saya pernah memiliki hutang puasa
Ramadhan. Dan saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan Sya’ban.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim) Yahya (perawi hadis); mengatakan, “Karena sibuk melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”
4. Dari Abdullah bin Abi Qois, beliau mendengar A’isyah radhiallahu ‘anha mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam sangat perhatian dengan bulan tidak sebagaimana bulan yang
lainnya. Kemudian beliau lanjutkan dengan puasa setelah terlihat hilal
Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan maka beliau genapkan Sya’ban 30
hari, kemudian puasa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ad-Daruquthni dan sanadnya
dishahihkan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth).
5. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُوا
“Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Abu Daud, At Turmudzi, Ibn Majah, dan dishahihkan Al Albani)
“Saya belum pernah melihat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut selain
di bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, At Turmudzi
dan dishahihkan Al Albani)
“Bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam
belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau
sambung dengan ramadhan.” (H.R. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani)
“Wahai Rasulullah, saya belum pernah
melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di
bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ini adalah
bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan
Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta
alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi
berpuasa’.” (H.R. An Nasa’i, Ahmad, dansanad-nya di-hasan-kan Syaikh Al
Albani)
9. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kalian mendahului Ramadhan
dengan berpuasa sehari atau dua hari. Kecuali orang yang sudah terbiasa
puasa sunnah, maka silahkan dia melaksanakannya.” (HR. Al Bukhari dan
Muslim)
10. Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن
“Sesungguhnya Allah melihat pada malam
pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang
musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, At Thabrani, dan
disahihkan Al Albani)
Hadis Dhaif Seputar Sya’ban
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam ditanya: Puasa sunnah apakah yang paling utama setelah Ramadhan?
Beliau bersabda, “Sya’ban, dalam rangka mengagungkan Ramadhan…” (HR. At
Turmudzi dari jalur Shadaqah bin Musa. Perawi ini disebutkan oleh Ad
Dzahabi dalam Ad Dhu’afa, beliau mengatakan: Para ulama mendhaifkannya.
Hadis ini juga didhaifkan Al Albani dalam Al Irwa.)
Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau
mengtakan, “Suatu malam, saya kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Saya cari keluar, ternyata beliau di Baqi’….Beliau bersabda,
‘Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala turun pada malam pertengahan
bulan Sya’ban ke langit dunia. Kemudian Dia mengampuni dosa yang lebih
banyak dari pada jumlah bulu kambingnya suku Kalb.” (HR. Ahmad, At
Turmudzi, dan didhaifkan Imam Al Bukhari dan Syaikh Al Albani)
Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika masuk malam
pertengahan bulan Sya’ban, maka shalat-lah di siang harinya. Karena
Allah turun ke langit dunia ketika matahari terbenam. Dia berfirman:
Mana orang yang meminta ampunan, pasti Aku ampuni, siapa yang minta
rezeki, pasti Aku beri rezeki, siapa…. sampai terbit fajar.” (HR. Ibn
Majah. Di dalam sanadnya terdapat Ibn Abi Subrah. Ibn Hajar mengatakan:
Para ulama menuduh beliau sebagai pemalsu hadis. Hadis ini juga
didhaifkan Syaikh Al Albani)
Hadis: “Rajab adalah bulan Allah,
Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” (Riwayat Abu
Bakr An Naqasy. Al Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan: An
Naqasy adalah pemalsu hadis, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As
Suyuthi menyebut hadis ini dengan hadis maudhu’)
Hadis: Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam memanggil: “Hai Ali, siapa yang shalat seratus rakaat di malam
pertengahan bulan Sya’ban, di setiap rakaat membaca Al Fatihah dan surat
Al Ikhlas sepuluh kali. Siapa saja yang melaksanakan shalat ini, pasti
Allah akan penuhi kebutuhannya yang dia inginkan ketika malam itu…”
(Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at,
2:127 – 128, As Suyuthi dalam Al-Lali’ Al Mashnu’ah, 2:57 – 59, dan
ulama pakar hadis lainnya )
Hadis: “Siapa yang melaksanakan shalat
pada pertengahan bulan Sya’ban dua belas rakaat, di setiap rakaat dia
membaca surat Al Ikhlas tiga kali, maka sebelum selesai shalat, dia akan
melihat tempatnya di surga.” (Hadis palsu, disebutkan Ibnul Jauzi dalam
Al Maudhu’at, 2:129 Ibnul Qoyim dalam Manarul Munif, Hal. 99, dan
dinyatakan palsu oleh pakar hadis lainnya)
Hadis-hadis sahih di atas merupakan dalil keutamaanmemperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya.
Apa Hikmahnya?
Ulama berselisih pendapat tentang hikmah
dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya
banyak riwayat tentang puasa ini. Pendapat yang paling kuat adalah
keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau
bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa
dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan
banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana
amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal
saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan
sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)
Kedua, memperbanyak ibadah di malam nishfu Sya’ban
Ulama berselisish pendapat tentang
status keutamaan malam nishfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang
saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya:
Pendapat pertama, tidak
ada keuatamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan
malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang
menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz
Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam
kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadis dan
kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang
menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril
Bida’, Hal. 33).
Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga
mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Sya’ban. Beliau
mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam
nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang
menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya
palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir
min Al Bida’, Hal. 11)
Pendapat kedua,
terdapat keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini
berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu,
dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah
melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua
makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn
Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).
Setelah menyebutkan beberapa waktu yang
utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas
ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya
keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad.
Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan
oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa,
23:123)
Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam
nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin
Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka
memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…”
(Lathaiful Ma’arif, Hal. 247).
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Bulan
ramadhan bulan yang mulia, sebuah momen yang sangat agung dimana Allah
-ta'ala- melipat gandakan pahala setiap hamba yang beramal, dan
membukakan pintu-pintu kebaikan. bulan yang penuh berkah dan rahmat
serta ampunan. Allah berfirman :
Artinya
: "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al
Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS
Al-Baqoroh : 185)
Bulan dimana pintu-pintu surga dibuka,
pintu-pintu neraka ditutup, dan dibelenggunya setan-setan. Rosulullah
-sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
إذا جاء رمضان فُتِّحت أبواب الجنة وغُلِّقت أبواب النار وصُفِّدت الشياطين
Artinya
: "Jika datang bulan ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu
neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu." (Muttafaq 'Alaihi)
Dibukanya
pintu-pintu surga dikarenakan banyaknya amalan-amalan sholih dilakukan
pada bulan tersebut. dan ditutupnya pintu-pintu neraka dikarenakan
sedikitnya amalan kemaksiatan yang dilakukan orang-orang yang beriman
pada bulan itu. dan dibelenggunya setan-setan dikarenakan mereka tidak
bisa lagi merusak dan menyesatkan manusia sebagaimana pada bulan-bulan
yang lain dimana manusia pada waktu itu sedang sibuk melaksanakan
amalan-amalan ibadah dan ketaatan.
Dan diantara keutamaan bulan ramadhan adalah sebagaimana yang disabdakan Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- :
Artinya
: "Diberikan kepada ummatku 5 hal pada bulan ramadhan yang tidak
diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya : bau mulut seseorang yang
berpuasa lebih wangi bagi Allah dari pada wangi misik. dan
malaikat-malaikat mendoakan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa
sampai mereka berbuka. dan Allah menghiasi surga-Nya setiap hari seraya
berkata : mereka para hamba-hambaKu yang harus merasakan kesusahan
(demi) menuju kepadamu. dan dibelenggunya gangguan-gangguan setan maka
setan-setan tidak bisa lagi menyesatkan sebagaimana mereka menyesatkan
pada bulan-bulan yang lainnya. dan diampuni (dosa-dosa) mereka disetiap
akhir malam. dikatakan kepada Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam- : wahai
Rosulullah, apakah itu lailatul qodar? beliau menjawab : tidak, akan
tetapi setiap orang yang beramal diberi pahalanya kepada mereka setiap
selesai mengerjakan amalannya." (HR Ahmad, Al-Bazzar dan Al-Baihaqi
dengan sanad yang lemah akan tetapi memiliki saksi-saksi)
Lima keutamaan yang diberikan kepada ummat ini pada bulan ramadhan yang tidak diberikan kepada ummat sebelumnya :
1. Bahwa bau mulut orang yang berpuasa bagi Allah lebih wangi dari pada wangi misik.
hal ini karena bau mulut disebabkan oleh amalan ketaatan yaitu puasa.
akan tetapi bukan berarti seseorang yang berpuasa kemudian menyepelekan
kebersihan mulutnya sehingga dapat mengganggu orang lain disekitarnya.
dikarenakan bau tersebut tidak dapat dihindarkan pada waktu puasa, maka
setiap orang yang berpuasa harus berusaha semaksimal mungkin agar orang
disekitarnya tidak terganggu oleh bau mulutnya.
4. Bahwa setan-setan dibelenggu
sehingga tidak bisa mengganggu dan menyesatkan orang-orang yang beriman
sebagaimana mereka mengganggu pada bulan-bulan selainnya. karena Allah
mengutamakan bulan ramadhan dengan ibadah dan ketaatan kepada-Nya.
sehingga orang-orang beriman pun sibuk dengan amalan mereka.
5. Bahwa Allah mengampuni ummat ini pada tiap akhir malam.
sebagaimana yang dijelaskan oleh Rosulullah -sholallahu 'alaihi
wasallam- bahwa setiap hamba akan diberi pahalanya setiap selesai
mengerjakan amalannya. berarti, pada bulan ini, setiap hamba akan
diampuni jika mereka telah mengerjakan apa yang diperintahkan kepada
mereka dari berpuasa dan melaksanakan amalan-amalan yang lainnya.
Itulah
beberapa keutamaan bulan suci ramadhan yang akan datang sebentar lagi.
sehingga kita harus benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapinya
dengan niat yang lurus dan jiwa yang bersih, karena semua amalan
ketaatan sangatlah berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.
“Dari Ibn Abbbas Ra berkata, Nabi
SAW melewati dua kuburan dan bersabda: “Sungguh keduanya tersiksa, dan bukan
tersiksa sebab dosa yang sangat besar, namun salah satunya tidak menutup aurat
(membuka auratnya dihadapan orang lain) saat buang air kecil, dan yang satunya
sering mengadu domba orang lain, lalu beliau SAW mengambil sehelai daun yang
masih segar, dan membelahnya menjadi dua, dan menaruhnya masing-masing helai di
masing masing kubur tersebut, maka orang orang bertanya: Wahai Rasulullah,
untuk apa engkau perbuat itu?, maka beliau SAW bersabda: semoga diringankan
untuk keduanya sebelum potongan daun ini mengering” (Shahih Bukhari)
Limpahan puji kehadirat Allah
subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Memiliki segenap kemuliaan dan
keluhuran dan Melimpahkan kepada hamba-hambaNya. Segenap alam semesta di langit
dan bumi diciptakan dari ketiadaan, alam dunia, alam barzakh dan alam akhirat,
dan segenap alam yang telah dicipta oleh Allah subhanahu wata’ala baik yang
kita ketahui atau pun yang tidak kita ketahui. Dan dari awal penciptaan makhluk
sejak itu pula tercantum bahwa semulia-mulia makhluk adalah sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan
sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai gerbang kasih sayang bagi
segenap anugerah dan rahmat Allah subhanahu wata’ala, yang mana dengan
kebangkitan sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hal itu menjadikan rahmat
Allah berlimpah dan terbuka untuk kita semua, dan segenap anugerah Allah yang
berupa kenikmatan di dunia dan di akhirat adalah bagian dari rahmat Allah
subhanahu wata’ala, dan rahmat Allah subhanahu wata’ala itu telah sampai kepada
kita, yaitu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari 14 abad yang
silam. Yang mana cahaya risalah kenabian berlanjut dari periode ke periode,
dari generasi ke generasi, hingga telah lewat 14 abad yang silam akan tetapi
sampai saat ini kita masih berada dalam cahaya risalah yang terang benderang,
cahaya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketahuilah bahwa kenikmatan dan segala
kebahagiaan yang dicipta oleh Allah subhanahu wata’ala terbagi menjadi dua
bagian, yaitu kenikmatan di dunia dan kenikmatan di akhirat. Dan sungguh
beruntung mereka yang menjadikan kenikmatan di dunia sebagai pembuka kenikmatan
di akhirat kelak, sebaliknya merugilah mereka yang menjadikan kenikmatan dunia
sebagai alat untuk melewati kehidupan yang membuat mereka jauh atau bahkan
melupakan Allah subhanahu wata’ala karena terlarut hanya dalam kenikmatan
dunia, sehingga mereka menghadapi kehidupan dunia yang fana dengan penuh
kenikmatan, dan kehidupan akhirat yang kekal akan dihadapi dalam kehinaan,
wal’iyadzubillah (semoga Allah melindungi dan menjauhkan kita dari hal
tersebut).
Senantiasalah ingat akan firman
Allah subhanahu wata’ala:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan
pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,
maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan”. ( QS. Ali Imran : 185 )
Kehidupan dunia hanyalah kehidupan
fana yang penuh dengan permainan, sandiwara dan tipuan-tipuan belak. Maka dalam
kehidupan fana yang penuh dengan permainan dan tipuan ini, Allah subhanahu
wata’ala menerbitkan matahari penerang kehidupan, sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana telah Allah sebutkan dalam Al qur’an
sebagai “ Penyeru kepada Allah dan pelita yang terang benderang”,
sebagaimana firmanNya :
“Dan untuk jadi penyeru kepada Agama
Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”. ( QS. Al Ahzab :
46 )
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
adalah penyeru manusia ke jalan Allah subhanahu wata’ala dan sebagai pelita
yang terang benderang, yang menerangi kehidupan kita dan menyejukkan sanubari
kita serta mempermudah segala kesulitan dalam kehidupan kita. Allah subhanahu
wata’ala berfirman :
وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
(At Thalaq: 2 )
“Barang siapa yang bertakwa kepada
Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.” ( QS. At Thalaq: 2 )
“Dan barang siapa yang bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat
gandakan pahala baginya.” ( QS. At Thaalaq : 5 )
Dan bagaimana cara kita bertakwa
kepada Allah subhanahu wata’ala, panutan kita dalam hal ini adalah pimpinan
kita sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang membawa kita kepada
keluhuran dan kemudahan, membawa kita kepada ketenangan, membawa kita kepada
kesejukan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat, maka panutlah beliau dalam
menghadapi kehidupan kita di dunia ini.
Sampailah kita pada hadits luhur,
dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu waktu melewati dua
kuburan, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa kedua
penghuni kuburan tersebut sedang disiksa di dalam kuburan mereka, hal ini
menunjukkan bahwa beliau mengetahui dan mendengar siksa kubur. Dan beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa mereka tidaklah disiksa sebab
perbuatn dosa besar, kemudian beliau mengambil selembar daun yang masih basah
lalu membelahnya menjadi dua bagian, yang masing-masing bagian diletakkan di
atas kedua kuburan tersebut. Para sahabat yang melihat hal tesebut lantas
bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengapa beliau
melakukan hal itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Semoga
Allah meringankan siksaan kedua orang ini sebelum daun itu mengering”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa mereka disiksa bukan
karena perbuatan dosa yang sangat besar, karena juga dijelaskan dalam riwayat
yang lainnya di dalam Shahihul Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah perbuatan dosa yang sangat besar,
lantas beliau terdiam dan kemudian berkata : “akan tetapi termasuk dosa
besar”, maka untuk mempermudah pemahaman dari hadits tersebut adalah
bahwa perbuatan itu bukanlah termasuk dosa yang sangat besar seperti syirik,
membunuh, berzina dan yang lainnya, namun hal tersebut termasuk dosa besar di
sisi Allah subhanahu wata’ala, dan perbuatan tersebut sering dan banyak
diremehkan oleh orang. Perbuatan dosa yang dilakukan kedua penghuni kubur itu,
yang pertama adalah tidak menutupi aurat ketika membuang air kecil, yaitu
membuang air kecil di hadapan orang lain. Mungkin anak kecil yang belum baligh
masih banyak yang membuang air kecil dihadapan orang, namun seorang anak yang
sudah baligh seharusnya tidak memperbuat hal tersebut, maka selayaknya bagi
setiap orang tua untuk mengajari anak-anaknya agar tidak membuang air kecil
sembarangan hingga terlihat auratnya oleh orang lain, dan aurat tidak boleh
terlihat bukan hanya ketika membuang air kecil saja namun dalam segala keadaan.
Kemudian dosa yang kedua adalah banyak mengadu domba orang lain (namiimah),
menukil ucapan Hujjatul Islam Al Imam An Nawawi bahwa makna “Namiimah”
adalah menyampaikan ucapan orang kepada yang lainnya kemudian memunculkan
kebencian antara satu dengan yang lainnya, sehingga mereka saling bermusuhan
akibat perbuatan tersebut. Maka tentunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam melihat bahwa kedua orang penghuni kubur tersebut adalah ummat beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang ditimpa kesulitan di dalam kubur
mereka, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak rela hal itu terjadi atas
ummatnya, akan tetapi meskipun mereka telah berbuat dosa namun masih tetap
diberi syafaat oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu dengan
meletakkan daun di atas kedua kubur tersebut agar diringankan siksa kubur
mereka sebelum daun itu mengering. Maka hadits ini menjadi dalil bahwa syafaat
nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam tidak hanya ada ketika di hari kiamat
saja, namun syafaat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bisa terjadi di
alam barzakh (kubur) bahkan di alam dunia, karena beliau sangat peduli terhadap
ummatnya dan tidak rela jika kesulitan menimpa mereka, dimana segala sesuatu
yang membuat ummatnya sulit atau dalam masalah, maka hal tersebut juga membuat
beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sulit. Sebagaimana firman Allah
subhanahu wata’ala :
“Sesungguhnya telah datang kepadamu
seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang mukmin.” ( QS. At Taubah : 128 )
Jika diantara kita tertimpa
kesulitan atau musibah, maka hal itu juga akan memberatkan nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga beliau sangat menjaga ummatnya dengan
tuntunan-tuntunan mulia beliau agar terjauhkan dari segala kesulitan baik di
dunia atau di akhirat, begitu juga dengan doa-doa beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam untuk ummatnya dari zaman beliau hingga di akhir zaman, serta dengan
syafaat kubra kelak di hari kiamat. Inilah indahnya nabi kita, yang paling
peduli kepada kita, di saat semua kekasih kita melupakan kita, orang-orang yang
mencintai kita akan meninggalkan dan melupakan kita jika mereka bukanlah
termasuk orang-orang yang shalih, namun nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam tidak akan pernah melupakan ummatnya selama mereka masih mengakui
kalimat syahadat :
لاَ
إِلهَ إِلاَّ اللهَ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله
“ Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad
utusan Allah”
Meskipun barangkali diantara mereka
masih ada yang akan melewati kehidupan yang sulit kelak di akhirat, namun
kesulitan itu tidak akan abadi karena semua kesulitan ummat ini akan berakhir
dengan syafaat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita berharap agar
semua kesulitan kita di dunia dan di akhirat termudahkan dengan syafaat nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Di majelis yang mulia ini, majelis
kecintaan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena majelis ini
tidak kita buka dan tidak kita tegakkan kecuali untuk menuntun ummat menuju
cinta kepada Allah subhanahu wata’ala dan kecintaan kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh sebab itu majelis ini diberi nama dengan “Majelis
Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam” , serta untuk menuntun ummat
menuju kebahagiaan dan keluhuran dengan bersatu dalam satu barisan bersama para
salafusshalih, para muqarrabin, para awliyaa’ dan para syuhadaa’ dan shalihin
dan bersama pemimpin seluruh orang-orang yang mulia, pemimpin semua manusia
sejak zaman nabi Adam As, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dimana
seluruh alam semesta mengenal dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
kecuali para pendosa dari kalangan manusia dan jin yang tidak mengenal beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Shahihul
Bukhari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda seraya menunjuk
kepada gunung Uhud :
إِنَّ
أُحُدًا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ
“ Sesungguhnya Uhud adalah gunung
yang mencintai kami, dan kami pun mencintainya”
Gunung Uhud hanyalah tumpukan batu
namun ternyata juga mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
dan cintanya dijawab oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka terlebih
lagi cinta kita kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam seharusnya
melebihi cinta gunung Uhud itu, dan kepedulian kita terhadap beliau dan dakwah
beliau shallallahu ‘alaihi wasallam akan berganti dengan cinta beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita, serta limpahan anugerah dari Allah
subhanahu wata’ala berupa kemuliaan-kemuliaan yang Allah berikan untuk kita
dalam kehidupan dunia yang dari sana akan muncul kemuliaan dalam kehidupan
akhirat kelak, insyaallah.
Dan layak kita fahami bahwa dalam
kehidupan ini, kita telah mendapatkan anugerah besar yang berupa kalam Allah
subhanahu wata’ala, yaitu Al qur’anul Karim yang merupakan surat kasih sayang
Allah yang menuntun kita untuk mencintai dan dicintai Allah subhanahu wata’ala
yang dibawa oleh sang pembawa Al qur’an sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam, dimana Al quran itu berisi kalimat-kalimat suci dari Allah subhanahu
wata’ala yang layaknya menerangi hari-hari dalam kehidupan kita, layaknya
menerangi bibir kita, layaknya menerangi rumah-rumah kita, dan selayaknya
menerangi jiwa-jiwa kita. Namun saat ini lihatlah bagaimana keadaan rumah-rumah
kita, barangkali di sebagian rumah telah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan
tidak terdengar suara lantunan kalimat-kalimat Allah dibacakan, tidak ada orang
yang membaca Al qur’an di dalamnya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda :
“ Sesungguhnya rumah yang didalamnya
dibacakan Al quran maka akan terlihat oleh penduduk langit (malaikat)
sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi”
Rumah-rumah yang didalamnya
dibacakan Al qur’an tampak terang benderang oleh penduduk langit, maka
bagaimanakah keadaan rumah-rumah kita, apakah terlihat gelap seperti gelapnya
malam, ataukah terlihat berpijar seperti bintang dan terlihat indah dari langit
oleh para malaikat Allah. Maka terangilah rumah-rumah kita dengan Al qur’an,
terangilah bibir-bibir kita dengan kalimat-kalimat Allah subhanahu wata’ala.
Alhamdulillah di majelis ini kita
telah membuka Halaqaturrasul yang ditujukan untuk mereka yang ingin membaca Al
qur’an secara berkelompok, dimana membaca Al qur’an sendiri pun hal itu adalah
baik, namun jika membacanya secara berkelompok bersama dengan orang lain maka
kemuliaan yang didapati pun akan bertambah banyak, dimana setiap orang akan
menjadi pengajar, pelajar, pendengar dan pembaca Al qur’an. Seseorang akan
menjadi sebagai pelajar, karena ketika ia membaca Al qur’an dan dalam bacaannya
terdapat kesalahan maka orang lain akan membenarkan bacaannya, maka dari
pembetulan itu ia telah belajar. Dan ia disebut sebagai pengajar ketika ia
membetulkan bacaan orang lain yang salah atau kurang tepat, serta disebut pula
sebagai pendengar ketika seseorang mendengarkan orang lain membaca sehingga
pendengarannya mendapatkan cahaya dari bacaan itu, dan disebut sebagai pembaca
ketika seseorang mendapatkan bagian untuk membaca sehingga bercahayalah
bibirnya dengan bacaan tersebut, dan hal itu merupakan hal yang sangat agung di
sisi Allah subhanahu wata’ala, demikianlah tujuan dari dibentuknya
Halaqaturrasul ini sebagaimana yang diinstruksikan oleh guru mulia kita untuk
dimakmurkan di Majelis Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa sebaik-baik manusia yang berjalan
di atas bumi adalah para pengajar Al qur’an, dimana jika ia mengatakan kepada
seorang anak kecil untuk mengucapkan بسم الله الرحمن الرحيم kemudian anak itu
mengucapkannya, maka Allah akan menentukan untuk anak itu, dan orang yang
mengajarnya serta untuk kedua orang tua anak itu pembebasan dari api neraka.
Maka terlebih lagi jika yang diajarkan adalah Al qur’an hingga khatam, seperti
pembacaan Al qur’an secara berkelompok yang didalamnya tercakup pembelajaran
dan pengajaran Al qur’an.
Barangkali hari-hari kita terlewatkan
dan pendengaran dan pengucapan kita ada pada hal-hal yang tidak diridhai Allah,
bagaimana keadaan bibir kita, telinga kita, pengucapan kita dan pendengaran
kita akan hal-hal yang diridahi Allah subhanahu wata’ala. Seberapa banyak kita
mendengar atau membaca kalimat-kalimat Allah yang begitu indah, dan seberapa
banyak kita mengucapkan dan mendengarkan kalimat-kalimat selain Al qur’an,
seberapa peduli kita akan kalimat-kalimat Allah dan seberapa peduli kita
terhadap selain Al qur’an. Mungkin banyak dari sebagian rumah-rumah kita yang
jauh dari cahaya Al qur’an Al Karim, namun sebagian dari kita telah menata
waktu dalam setiap harinya, misalnya ketika berada di rumah pada jam sekian
akan acara ini dan itu di Tv maka aku harus mendengarkannya dan yang lainnya,
kesemuanya ditata dengan tertib agar tidak terlewatkan padahal hal-hal tersebut
hanyalah kefanaan yang sia-sia dan tiada akan menuntun kepada keluhuran namun
barangkali menuntun kepada kehinaan. Akan tetapi adakah seseorang yang peduli
untuk mengatur waktunya pada jam tertentu untuk membaca Al qur’an?, sebagaimana
waktu sebelum masuk waktu subuh sangat dianjurkan untuk membaca Al qur’an,
begitu pula sebelum terbitnya matahari dan setelah terbenamnya matahari, bahkan
di waktu kapanpun dan dimana pun disunnahkan untuk membaca Al qur’anul Karim,
kecuali di tempat-tempat yang hina seperti kamar mandi dan lainnya. Maka
terangilah waktu-waktu kita dengan cahaya Al qur’an, yang mana Al quran adalah
kalam Allah subhanahu wata’ala yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, dan ingatlah bahwa Allah subhanahu wata’ala menciptakan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai lambang cinta Allah subhanahu
wata’ala, lambang kasih sayang Allah subhanahu wata’ala terhadap
hamba-hambaNya, dan dengan kasih sayang itu Allah memberikan kenikmatan di
dunia kepada semua manusia yang beriman atau pun yang tidak beriman, dan
terdapat pula kasih sayang dan kelembutan yang hanya diberikan kepada manusia
yang beriman kelak di akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits
qudsi riwayat Shahih Al Bukhari bahwa ketika Allah subhanahu wata’ala telah
selesai membangun ‘arsy dan seluruh alam semesta, kemudian Allah menuliskan di
atas ‘arasy :
إِنَّ
رَحْمَتِيْ تَغْلِبُ غَضَبِيْ
“ Sesungguhnya rahmatKu (kasih
sayang) mengalahkan kemurkaanKu”
Oleh sebab itu layaklah jika para
shalihin dan para wali Allah dan orang-orang yang beriman sangat mencintai dan
rindu kepada Allah subhanahu wata’ala lebih dari kecintaan mereka kepada selain
Allah subhanahu wata’ala. Syaikh Ibrahim Al Khawwas Ar dalam kitab Ihyaa’
Ulumuddin sambil memegang dadanya dan mengalir air matanya beliau berkata :
وَاشَوْقَاهْ
لِمَنْ يَرَانِيْ وَلاَ أَرَاهُ
“ Sungguh rindunya aku pada Yang
melihatku (Allah) dan aku tidak melihatNya”
Dan kerinduan orang-orang shalih
seperti mereka ditumpahkan dalam munajat yang sangat agung dan sering kita
dengar, yaitu :
“ Ya Allah limpahkanlah rizeki
kepada kami untuk memandang dzatMu yang mulia”
Ketika kita telah mencintai Allah
subhanahu wata’ala, maka kita haruslah menyayangi hamba-hamba yang telah
diciptaNya, diantara meraka adalah keluarga, kerabat kita, tetangga dan
teman-teman kita, dan yang lainnya. Orang yang menyayangi segenap ummat Islam
dengan menginginkan untuk tidak datang musibah atas mereka, maka ia adalah
pemilik jiwa yang sama dengan jiwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
satu pemikiran dan satu niat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, yang
mana beliau senantiasa berdoa untuk ummatnya agar terjauhkan dari segala
musibah.
Semoga Allah subhanahu wata’ala
menjauhkan musibah dari kita dan semua ummat ini, serta mengabulkan segala
hajat kita dan semua hajat ummat ini, Ya Rahman Ya Rahiim permudahlah segala
kesulitan dan bukalah segala pintu keluhuran, angkatlah segala penghalang kami
untuk mencapai kemuliaan, keluhuran, dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Wahai
Yang Maha Memiliki dunia dan akhirat dan kebahagiaannya limpahkanlah kepada
kami kebahagiaan di dunia dan akhirat dan jauhkan kami dari api neraka…